Kritik Sosial & Refleksi

Membongkar Feodalisme Agama

Bagaimana struktur kekuasaan kuno bersembunyi di balik jubah kesucian, membungkam nalar kritis, dan melanggengkan ketimpangan di Indonesia.

Akar yang Menggurita

Feodalisme bukan sekadar sistem tanah di abad pertengahan. Di Indonesia, ia berevolusi menjadi budaya patron-klien: sebuah sistem di mana kepatuhan mutlak diberikan kepada "atasan" atau "tokoh" dengan imbalan perlindungan atau berkah.

Budaya "sungkan", takut kualat, dan hierarki sosial yang kaku membuat masyarakat sulit bersikap kritis terhadap mereka yang memiliki kuasa, baik kuasa politik maupun spiritual.

"

Feodalisme membunuh kesetaraan. Ia menciptakan jurang antara yang 'suci' dan yang 'awam', antara yang berhak bicara dan yang hanya boleh mendengar.

Bahaya Feodalisme Agama

Ketika feodalisme dibungkus dengan dogma agama, daya rusaknya berlipat ganda. Kritik terhadap tokoh agama disamakan dengan penistaan terhadap Tuhan.

Kekebalan dari Kritik

Tokoh agama dianggap maksum (suci dari salah). Segala tindakannya, bahkan yang melanggar hukum atau moral, seringkali dimaklumi atau ditutupi oleh pengikutnya.

Monopoli Kebenaran

Tafsir agama dikuasai oleh segelintir elit. Umat dilarang berpikir kritis dan hanya dituntut untuk 'sami'na wa atha'na' (kami dengar dan kami taat) secara membabi buta.

Eksploitasi Umat

Kepatuhan umat sering dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis atau pengumpulan kekayaan pribadi sang tokoh, berkedok sumbangan atau perjuangan agama.

Mengapa Ini Menghambat Kemajuan?

Masyarakat yang terjebak dalam feodalisme agama akan sulit berinovasi. Energi mereka habis untuk melayani simbol-simbol dan tokoh, bukan untuk memecahkan masalah nyata seperti kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan.

Lebih buruk lagi, feodalisme agama melanggengkan ketidakadilan gender dan kelas sosial. Mereka yang berada di bawah hierarki dipaksa menerima nasib sebagai "takdir" atau "ujian", sementara elit agama menikmati privilese tanpa batas.

Saatnya Memutus Rantai

Agama sejatinya membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia. Mari kembali pada esensi keberagamaan yang egaliter, rasional, dan memanusiakan.